( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0

MEMBERI ADALAH KITA !

Senin, Oktober 19th 2015.

MEMBERI ADALAH KITA !Oleh: Magdalena Sukartono

Wow.. kok mirip iklan kampanye Capres ya… Karena kali ini kita memang masih bicara seputar memberi. Bagaimana memberi yang terbaik bagi bangsa dan negara. Bagi masyarakat, bagi orang-orang sekeliling kita. Mengapa dan bagaimana sebaiknya kita memberi ? Bagaimana pula kita bisa memiliki semangat memberi !

Sejak suami berpulang 30 tahun lalu, setiap tahun saya merayakan ulang tahun dengan berbagi kasih kepada masyarakat papa (peng-ojek, penarik becak, pemulung, anak jalanan, anak-anak panti, korban narkoba, para napi, dsb)…. Memotivasi dan memberi mereka bantuan yang diperlukan, yang berhasil saya himpun dari para sponsor. Tetapi Anthony Dio Martin lebih unik ! Pada hari ulang tahunnya baru-baru ini, ia membagikan lebih dari 100 nasi box untuk masyarakat papa yang ditemuinya di sepanjang jalan Jakarta-Bogor. Bukan hanya pemulung, tapi juga pengamen, pengemis, dan gelandangan yang ada di kolong jembatan. Dalam artikel yang ditulisnya di website (The Virtue of Sharing), ia menceritakan bagaimana respon mereka yang diberi. Ada yang nampak ceria, berterimakasih, ada yang sebaliknya… curiga, bahkan menolak karena ingin diberi yang lain. Tentang memberi dikatakannya, hendaknya kita :

1. Jangan berharap ucapan terima kasih dari yang diberi.
2. Bukan untuk mencari pahala melainkan karena kita merasa sudah diberi Allah berkat dan anugerah. Dengan kata lain, memberi adalah bentuk ucapan syukur yang tulus, abundance spirit (semangat berkelimpahan).

3. Merasakan kenikmatan dalam memberi, sehingga kita bisa merasa hepi, menjadi bersemangat bahkan membuat kita sehat.

4. Merasa peka dan peduli, sehingga dengan memberi kita bisa mengurangi stres. Giving is a great self therapy (memberi adalah terapi diri yang terbaik).

Jelaslah, bahwa yang terbaik adalah jika kita mampu memberi tanpa pamrih. Memberi karena rasa syukur, memberi dengan sukacita, memberi tanpa memperhitungkan respon mereka yang kita beri ! Bahkan ikhlas dan siap memaafkan, jika kita memberi malah disalahkan, dicurigai dan dibenci. Disinilah kita bisa mengetahui, seberapa tinggi EQ / ESQ yang kita miliki. Seberapa kuat iman kita dan kasih kita kepada sang Pencipta ! Pembaca pasti tahu, betapa hebatnya Bunda Teresa yang telah memberikan hidupnya dengan melayani masyarakat papa di India bahkan di tengah para korban penyakit kusta.

Adam Grant (Give And Take) membagi 3 tipe orang dalam ber-relasi sosial, yaitu Taker, Giver, Matcher. TAKER adalah sosok selfish yang selalu menempatkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Tak peduli orang lain, asal menguntungkan bagi dirinya. Semboyan mereka adalah : get more than they give (menerima lebih dari yang mereka berikan). GIVER selalu menginginkan memberi lebih banyak dari yang mereka dapat. Tidak seperti Taker yang selalu self-focused, Giver justru other-focused. Sosok yang rela & ikhlas berkorban demi kesuksesan orang lain. MATCHER adalah perpaduan antara Taker & Giver. Memberi kepada orang lain dengan syarat bisa mendapat imbalan yang sepadan. Selalu berhitung dengan jeli antara apa yang diberikan dan yang didapat.

Nah,Pembaca termasuk yang mana ? Giver, Taker atau Matcher ? Yuk, kita pupuk rasa bersyukur kita atas berkat anugerahNYA, sikap peduli kepada orang lain, sehingga kita mampu memiliki semangat memberi. Bahkan mampu bersemboyan : MEMBERI ADALAH KITA !!!

*Dimuat di harian Kedaulatan Rakyat rubrik Ketenagakerjaan, Rabu 25 Juni 2014

*Magdalena Sukartono. Praktisi, konsultan SDM, Trainer, Kolumnis Tetap Rubrik Ketenagakerjaan Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Pengelola Lembaga Pengembangan SDM Abisatya Paramitra. Lahir di Mayong, Jepara 5 Oktober 1938 dan telah memberikan lebih dari 2.000 kelas di berbagai wilayah di Indonesia.

MEMBERI ADALAH KITA !

 

Produk terbaru

Cek resi

Pengiriman