( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0

MEMBEDAH OTAK INVESTOR STARTUP DI INDONESIA

Senin, Oktober 19th 2015.
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, cukup banyak bisnis startup di Indonesia yang meraup pendanaan dari investor. Hal ini menunjukkan kepercayaan besar dari para pemilik modal terhadap masa depan industri digital di negara ini. Tapi, apa saja pertimbangan di dalam otak mereka sebelum mengucurkan dana?[Ilustrasi: big-advisors.com]

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, cukup banyak bisnis startup di Indonesia yang meraup pendanaan dari investor. Hal ini menunjukkan kepercayaan besar dari para pemilik modal terhadap masa depan industri digital di negara ini. Tapi, apa saja pertimbangan di dalam otak mereka sebelum mengucurkan dana?[Ilustrasi: big-advisors.com]

Siapa yang tidak mementingkan kualitas? Kebanyakan konsumen mempertimbangkan kualitas ketika hendak membeli suatu barang yang diinginkan. Seorang staf HRD di kantor juga akan mencari kualitas dari tenaga kerja yang akan direkrutnya.

Nah, kualitas ini pula yang dicari seorang pemodal ketika ingin menyuntikkan dananya kepada sebuah perusahaan–entah itu yang baru memulai bisnisnya (startup) atau yang sudah mulai berkembang (established). Dalam hal ini, investor dalam bisnis digital juga tidak ingin ketinggalan. Mereka pun mementingkan kualitas dari startup digital yang ingin dibantunya.

Seperti diketahui, di Indonesia dan sejumlah negara lainnya tengah dilanda demam bisnis online bersamaan dengan pesatnya penggunaan intenet. Ini memberi dampak pada transaksi jual beli yang perlahan-lahan bergeser dari offline (tradisional) menjadi online.

Diperkirakan, 0,7% dari total transaksi retail Indonesia sudah beralih ke digital atau online. Angka ini masih kalah jauh dari Tiongkok yang kini bisnis online-nya sudah mencapai 10 persen dari total bisnis retailnya. Tapi, meski kalah dari Tiongkok, banyak yang meyakini potensi bisnis online di Indonesia masih sangat besar dan dengan demikian membutuhkan suntikan dana yang besar pula.

Fenomena inilah yang ditangkap oleh para pemodal, baik perorangan (disebut angel investor) maupun perusahaan pengelola modal (disebut venture capitalist/VC). Saat hendak mencari perusahaan yang ingin dibantu, para investor ini tidak serta-merta memberikan modal tanpa menginginkan persyaratan. Mereka pasti berharap uang yang mereka kucurkan tidak keluar sia-sia. Mereka menargetkan perusahaan pemula yang berkualitas.

Ideosource adalah salah satu VC asal Indonesia yang sudah cukup lama aktif mengucurkan dana bagi sejumlah startup berpotensi di tanah air. Contoh yang paling aktual yaitu investasi mereka terhadap situs e-commerce Bhinneka.com sebesar Rp300 miliar.

Ketika ditemui baru-baru ini, Andi S. Boediman (Managing Partner, Ideousource) mengatakan bahwa pihaknya ingin membantu baik startup maupun perusahaan yang sudah mapan semacam Bhinneka.com dan Kapanlagi. Tapi, apa pun karakter perusahaannya, Ideosource tetap mementingkan kualitas.

”Kami ingin mendukung dan membantu founder yang sudah menjadi winner, seperti Bhinneka dan Kapanlagi. Sejarah mereka sudah panjang. Tapi, kami juga senang membantu startup asal mereka memiliki kualitas yang baik, seperti latar belakang pendidikan yang berkualitas,” kata Andi.

Ideosource adalah salah satu VC asal Indonesia yang sudah cukup lama aktif mengucurkan dana bagi startup berpotensi di tanah air.

Ideosource adalah salah satu VC asal Indonesia yang sudah cukup lama aktif mengucurkan dana bagi startup berpotensi di tanah air.

Menurut Andi, bisnis online digital memang saat ini sangat seksi, tapi bukan berarti industri ini tidak berisiko. “Banyak juga yang gagal di bisnis ini. Maka dari itu, menjadi startup harus pintar dan tough. Pokoknya perlu orang terbaik untuk masuk ke bisnis ini,” ujar dia.

Soal kualitas startup ini juga diangkat oleh Danny Oei Wirianto (Chief Marketing Officer, GDP Venture). Sebagai informasi, GDP Venture adalah pemodal ventura lokal yang berada di balik perusahaan-perusahaan digital seperti Kaskus, Blibli.com, dan Kurio. GDP Venture dipimpin oleh Martin Hartono, putra dari pemilik Grup Djarum, R. Budi Hartono.

Danny menyatakan bahwa isu sukses tidaknya sebuah startup meraih pendanaan akan kembali lagi kepada profil pendiri bisnisnya. Hal ini sering berperan sebagai faktor utama yang menjadi alasan pemodal mau berinvestasi pada suatu startup. “Banyak pemodal yang terlebih dahulu melakukan penilaian komitmen, dedikasi, dan kualitas dari sang pendiri sebelum mereka memutuskan investasi di sebuah startup,” ujar Danny kepada CNN Indonesia.

Dia mengatakan bahwa sekarang ini Indonesia membutuhkan lebih banyak angel investor atau pemodal perorangan karena mereka mampu mendorong sebuah startup untuk tumbuh. Dengan kepemilikan dana yang bisa disebut tak sebesar perusahaan modal ventura, seorang angel investor akan bermain pada pendanaan tahap awal (seed stage) dan pendanaan Seri A (Series-A stage). Pada umumnya, angel investor enggan perusahaan yang telah ia danai dari koceknya sendiri gugur begitu saja. Maka, ia akan aktif memberi saran, mengawasi pertumbuhan, sampai memperkenalkan pendiri startup dengan para koleganya.

“Oleh karena itu kita membutuhkan lebih banyak angel investor,” kata Danny yang mengaku juga berinvestasi di sejumlah perusahaan lokal dan asing sebagai angel investor.

Bukalapak berhasil mendapatkan kucuran dana dari PT Kreatif Media Karya (KMK Online), bagian dari konglomerasi media EMTEK Group.

Bukalapak berhasil mendapatkan kucuran dana dari PT Kreatif Media Karya (KMK Online), bagian dari konglomerasi media EMTEK Group.

Kunci Utama

Soal pentingnya kualitas startup di mata investor ini diamini pula oleh Achmad Zaky (Co-Founder dan CEO, Bukalapak.com).

Pada bulan Februari lalu, Bukalapak berhasil mendapatkan kucuran dana dari PT Kreatif Media Karya (KMK Online), bagian dari konglomerasi media EMTEK Group yang khusus didirikan untuk menangkap gurihnya peluang bisnis digital. Selain kepada Bukalapak, KMK Online telah menanamkan investasi kepada beberapa startup dalam satu tahun terakhir, contohnya Rumah.com, Vidio.com, dan Karir.com.

“Sekarang sudah banyak investor di bidang digital. Tapi, masalahnya adalah bagaimana membuat startup yang bagus. Tidak seperti dulu, pemilik perusahaan startup-lah yang harus dapat meyakinkan investor. Saat ini, justru investor berlomba-lomba ingin menginvestasikan dananya di startup,” papar Achmad.

Achmad berujar bahwa banyak investor yang bertanya kepada dirinya, ‘Ada startup yang bagus tidak?’. Namun, ia mengaku terpaksa mengatakan tidak mengetahui. Menurutnya, saat ini kualitas startup di Indonesia belum cukup baik. Pemilik startup sebaiknya memberikan pengalaman yang lebih kepada pengguna. “Untuk pemilik startup, buat investor melihat Anda dengan cara meningkatkan kualitas Anda,” ia berpesan.

Lebih jauh, Achmad berharap lebih banyak perusahaan digital asing yang membuka kantor di Indonesia, seperti Google, yang mau membawa engineer-nya ke Indonesia. “Bukan cuma orang marketing-nya, melainkan juga mereka dapat membawa engineer-nya ke Indonesia agar dapat berbagi ilmu dengan dengan para pemilik startup,” kata Achmad.

Alasan Berinvestasi

Dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun terakhir, cukup banyak investor lokal yang baru menampakkan dirinya kepada para startup, khususnya mereka yang berasal dari kelompok bisnis atau konglomerasi raksasa.

Di samping GDP Venture dan EMTEK yang sudah disebut lebih dahulu, masih ada CT Corp yang telah mengendalikan Detik.com sejak tahun 2011 dan Lippo Group yang sempat mencuri perhatian publik dengan pembukaan MatahariMall, situs e-commerce bermodal 500 juta dolar.

Tidak bisa dilewatkan juga beberapa pihak yang memilih jalur sebagai inkubator bisnis yang lebih berperan dalam membina dan mengembangkan potensi startup, alih-alih sekadar menyuntik dana. Sebagian di antara mereka yaitu Ciputra GEPI Incubator, Indosat Ideabox, dan Grupara Incubator.

Kehadiran para VC dan inkubator yang berbasis di Indonesia ini menjadi angin segar setelah masa-masa awal ekosistem startup yang masih didominasi oleh pemodal-pemodal asing, antara lain dari Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat.

Selain melihat potensi besar di depan mata, alasan apa lagi yang menyebabkan para pemilik modal tersebut berani berinvestasi di bisnis digital?

Willson Cuaca (Co-founder & Managing Partner, East Ventures) menyebutkan satu kata: timing. Menurut dia, sekarang merupakan waktu yang tepat untuk memulai bisnis digital di Indonesia. Seperti kita berselancar, harus menunggu ombak, dan saat ini ombaknya telah datang. “Indonesia memiliki pasar dan penetrasi internet yang luas,” ujarmya seperti dilansir Antaranews.

Hal senada juga datang dari Stefan Jung (Partner, Monk’s Hill Ventures) yang mengatakan penetrasi smartphone yang tinggi, ditambah dengan pertumbuhan angka PDB (Produk Domestik Bruto) yang baik menjadi alasan dia untuk berinvestasi di Indonesia. “Sektor finansial tumbuh sangat sehat dan Indonesia memiliki keseluruhan ekosistem yang sangat baik dan stabil,” ia beralasan.

Untuk berinvestasi, para pemilik modal ternyata tidak hanya melihat ekosistem di Indonesia. Pemilik startup juga menjadi pertimbangan para investor asing tersebut. “Founder harus dapat fokus dalam eksekusi karena kami mencari orang yang tahu cara bagaimana menghabiskan uang,” imbuhnya.

Menurut Stefan, pendiri startup harus berwawasan luas karena saat ini hal-hal dapat berubah dengan cepat. Selain itu, pendiri harus fokus dalam apa yang dia lakukan, bukan menjadikan startup-nya pekerjaan sampingan semata.

Menkominfo Rudiantara. [Foto: Dok. Kemenkominfo]

Menkominfo Rudiantara. [Foto: Dok. Kemenkominfo]

Membangun Ekosistem

Di pihak lain, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan tekadnya untuk membangun ekosistem startup, khususnya e-commerce di Indonesia. Menkominfo mengatakan saat ini tengah membuat program untuk e-commerce dan dalam tahapan pembicaraan dengan sejumlah pihak.

Isu utama, menurut Rudiantara, adalah pendanaan. Dia mengatakan bahwa pendanaan harus dibagi menjadi dua segmentasi, yaitu bisnis UKM (startup) dan bisnis mapan (established), seperti Go-Jek dan Tokopedia.

“Sekarang, e-commerce masuk daftar negatif investasi [jenis-jenis bisnis yang tidak boleh dimasuki pemodal asing. Red]. Kami sedang siapkan nantinya peraturan ini agak dilonggarkan, tapi hanya untuk e-commerce yang sudah mapan dan butuh pendanaan ratusan juta dolar,” ujar Rudiantara ketika mengunjungi konferensi Tech in Asia Jakarta 2015, pertengahan November lalu.

“Jangan sampai nanti pemodal asing masuk ke UKM, startup. Justru kita harus besarkan mereka dulu sampai pada saatnya asing boleh masuk,” sambungnya.

Isu lain mengenai pendanaan adalah pajak. Untuk hal ini, dia mengatakan bahwa penerapaan PPN e-commerce akan dipermudah. “Kalau sekarang ada pajak pemasukan dan pajak pengeluaran, nantinya akan dibuat flat, seperti di capital market, final tax, tidak lagi menghitung pajak pemasukan dan pajak pengeluaran. Akan kami bicarakan itu dengan Menteri Keuangan,” kata Menkominfo.

Untuk masalah infrastruktur pembayaran, pihaknya sedang berdialog dengan Bank Indonesia untuk membentuk sebuah national payment gateway. Jadi, seluruh transaksi e-commerce pada waktunya nanti akan melewati satu platform pembayaran tunggal ini.

Dari sisi logistik, Menkominfo melihat PT Pos dapat diubah menjadi bagian dari ekosistem e-commerce. Dengan jangkauan seluruh nusantara, PT Pos dapat menjadi perusahaan yang fokus mendukung fungsi logistik dari e-commerce Indonesia agar menekan biaya logistik. Otomatis, biaya suatu produk untuk sampai ke konsumen bisa menjadi lebih murah.

Baru-baru ini, pemerintah memasang target memiliki 1.000 startup berkualitas di Indonesia pada tahun 2020 mendatang.

Andi Boediman menilai target pemerintah tersebut logis. Namun, Andi mengatakan ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk mencapai target tersebut. “Untuk mendapatkan seribu startup yang berkualitas, setidaknya kita harus punya dulu jumlah startup sepuluh kali lipat dari target tersebut,” kata dia.

Lebih lanjut, menurut Andi, pendanaan jangan hanya diberikan kepada startup yang berkualitas. Seperti di dalam bisnis UKM pada umumnya, rasio antara bisnis yang berhasil dan gagal adalah 1:10. Jadi, pemerintah sebaiknya siap untuk menggarap 10 ribu startup yang diharapkan bisa mencetak 1.000 cerita kesuksesan.

Pada penghujungnya, dari seribu startup itu, akan tumbuh lebih besar lagi sampai muncullah seratus yang spektakuler dan memperoleh status sebagai unicorn atau bisnis dengan nilai perusahaan (valuation) minimal satu miliar dolar.

*Penulis: Ovi Oktaviani/Erry FP

 

Produk terbaru

Rp (Hubungi CS)
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPerumahan Syariah Ummi Residence
Harga Rp (Hubungi CS)
Lihat Detail
Rp 29.900 39.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode27670 - Optimals Oxygen Boost Face Blotting Tissues
Nama BarangOptimals Oxygen Boost Face Blotting Tissues
Harga Rp 29.900 39.000
Anda HematRp 9.100 (23.33%)
Lihat Detail
Rp 139.000 198.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode30348 - Optimals Even Out Face Lotion SPF 30
Nama BarangOptimals Even Out Face Lotion SPF 30
Harga Rp 139.000 198.000
Anda HematRp 59.000 (29.80%)
Lihat Detail
Rp 195.000 198.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals White Skin Youth
Nama BarangOptimals White Skin Youth
Harga Rp 195.000 198.000
Anda HematRp 3.000 (1.52%)
Lihat Detail
Rp 145.000 169.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals Body
Nama BarangOptimals Body
Harga Rp 145.000 169.000
Anda HematRp 24.000 (14.20%)
Lihat Detail
Rp 129.000 179.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals Even Out CC Face Cream SPF 20
Nama BarangOptimals Even Out CC Face Cream SPF 20
Harga Rp 129.000 179.000
Anda HematRp 50.000 (27.93%)
Lihat Detail

Cek resi

Pengiriman