( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0

KOMPUTASI AWAN LEBIH GELORAKAN BISNIS ZALORA

Senin, Oktober 19th 2015.
Komputasi Awan Lebih Gelorakan Bisnis Zalora

Karthik Subramanian, Chief Technology Officer, Zalora. Foto: Dok. AWS

Banyak pendapat yang mengatakan, cloud dan startup adalah pasangan serasi. Cloud memampukan perusahaan-perusahaan rintisan, terutama yang berbasis teknologi (tech startup), untuk memulai bisnis dengan “berlari”. Dengan biaya awal yang relatif rendah dan infrastruktur yang fleksibel, perusahaan startup tersebut mampu bersaing dengan sesama bisnis rintisan, bahkan dengan perusahaan dengan teknologi informasi yang sudah lebih mapan.

Namun Zalora adalah antitesis dari bisnis startup pada umumnya. Alih-alih menggunakan cloud computing, pebisnis e-commerce produk fashion dan footwear ini justru mengawali bisnis dengan dukungan sistem dan infrastruktur teknologi dari sebuah data center fisik.

“Most startup will say proudly they’re born in the cloud and we proudly say we moved to the cloud!” cetus Karthik Subramanian, Chief Technology Officer, Zalora Group kepada InfoKomputer dalam sebuah wawancara eksklusif di Singapura, beberapa waktu lalu.

Bisnis Musiman, Utilisasi Server Tidak Optimal

Di awal bisnisnya tahun 2011, Zalora Group (Zalora) menaruh (hosting) content management systems, aplikasi, website, dan payment gateway; juga server, storage, jaringan dan infrastruktur teknologi lainnya di sebuah data center yang berlokasi di Hong Kong. Strategi itu berjalan sampai akhir Maret lalu, saat Zalora memindahkan seluruh sistem dan aplikasi miliknya ke cloud.

Apa yang mendorong Zalora beralih ke komputasi awan? Pertumbuhan bisnis adalah salah satu alasannya. “Kami tumbuh sekitar 100 persen setiap tahunnya,” ujar Karthik. Saat pertama kali beroperasi di Indonesia, Karthik mengingat ada sepuluh order yang diterima Zalora. Namun di bulan Desember tahun lalu, jumlah tersebut sudah meningkat hingga 50 ribu pesanan per hari.

Dengan pertumbuhan bisnis yang sangat pesat itu, Karthik dan timnya mau tak mau harus terus meningkatkan kapasitas sumber daya komputasinya di data center. “Kami harus terus menambah server setiap tahunnya,” jelas Karthik Subramanian.

Namun sayangnya penambahan server itu tidak diikuti oleh utilisasi yang optimal. “Tingkat utilisasi server-server kami rata-rata hanya sepuluh persen per tahun,” tandas sarjana Computer Engineering lulusan National University of Singapore ini.

Salah satu penyebabnya adalah bisnis fashion seperti yang djalankan Zalora umumnya bersifat musiman. Ada saat di mana pesanan membludak, misalnya ketika Lebaran, Tahun Baru China, Natal, atau saat ada promosi penjualan khusus, seperti 12.12. Namun di lain waktu, penjualan berjalan tanpa lonjakan traffic yang signifikan.

“Kami harus menambah server hanya untuk memastikan Zalora tidak kehabisan kapasitas sumber daya komputasi untuk dua atau tiga hari saja dalam setahun karena traffic yang melonjak tinggi dan dapat berimbas pada sistem,” imbuhnya. Walhasil, di luar “jam sibuk”, server-server tersebut kebanyakan menganggur. Ini tentu sebuah kesia-siaan kapasitas, menurut Karthik.

Di samping itu, menambah server juga bukan masalah mudah. Dibutuhkan waktu setidaknya satu bulan sebelum server baru dapat dioperasikan oleh pengeloa data center di Hong Kong. Ditambah lagi, terkadang Karthik dan timnya kesulitan “menebak” kapasitas yang dibutuhkan ketika tim marketing Zalora akan menggelar promosi penjualan tertentu.

Mengapa Zalora tidak memanfaatkan cloud computing sejak awal? Beroperasi di delapan negara yang berbeda, meski berada di satu kawasan, tentu bukan hal mudah bagi Zalora, terutama untuk mencapai operational excellence sesuai kebutuhan pelanggan. Setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda.

“Ketika kami meluncurkan situs web Zalora di indonesia, average page load speed-nya sekitar empat belas detik. Kalau kami (menggunakan cloud, dan) kami host situs web-nya di Amerika tentu waktu loading halaman web-nya akan lebih lama lagi,” jelas Karthik.

Empat tahun lalu, Amazon Web Services (AWS) belum memiliki Availability Zones di Singapura, negara di mana Zalora mensentralisasi seluruh operasional teknologinya. Mau tak mau, hosting di data center menjadi pilihan. “Bisnis kami tentu tidak bisa menunggu sampai penyedia cloud sekelas AWS membuka fasilitasnya di Singapura,” Karthik menambahkan.

Paralel dan Bertahap

Zalora mengawali perjalanannya ke komputasi awan secara bertahap dan paralel dengan infrastruktur di data center. Di tahap awal, platform cloud dimanfaatkan Karthik Subramanian dan timnya untuk melakukan testing dan development. “Para QA engineer kami men-deploy kode pemrograman baru dan mengujinya di platform cloud AWS sebelum mereka memasangnya di live infrastructure di data center,” tutur Karthik.

Beberapa sistem dan tool internal, yang tidak terkait customer traffic, juga mulai dipindahkan oleh Zalora ke platform AWS. Salah satu sistem yang cukup besar skalanya adalah sistem data warehouse yang dialihkan ke AWS Redshift. “Data warehouse adalah salah satu production system Zalora tetapi masih termasuk sistem internal karena melibatkan live customer traffic,” Karthik menjelaskan.

Sekitar bulan Agustus dan September, tim TI Zalora yang semakin percaya diri dengan cloud merencanakan uji platform cloud secara besar-besaran. “Saat itu, kami akan menggelar 12.12 Online Fever di bulan November. Sepertinya data center kami tidak akan mampu menangani traffic di masa promosi tersebut karena lalu lintas jaringan biasanya akan meningkat lima kali lipat di banding tahun lalu,” Karthik bercerita.

Karthik lantas menyiapkan load balancer-nya untuk mengalirkan 75 persen traffic setiap hari ketika program 12.12 sedang berjalan ke cloud. Tetapi database tetap berjalan di data center fisik. Untuk mengurangi beban di jaringan dan sistem, Karthik juga mengatur agar promosi yang digelar di delapan negara itu tidak dimulai serentak di waktu yang sama.

“If it works today it will work forever. If it doesnt work today, i got fired,” Karthik Subramanian sambil tertawa kecil menggambarkan keyakinannya saat itu. Untunglah proses uji coba besar-besaran ini berakhir menyenangkan karena kampanye 12.12 Online Fever berjalan tanpa gangguan dan tim TI Zalora pun semakin percaya diri untuk berpindah total ke awan.

Proses tersebut dimulai akhir Februari lalu. “Kami memulainya dengan memindahkan situs web Zalora Singapura ke cloud. Setelah itu kami memindahkan dua website setiap minggunya dan selesaikan proses ini tangal 31 Maret,” papar Karthik. Satu-satunya downtime yang terjadi—selama sekitar 45 menit—adalah saat database dipindahkan ke cloud.

Cloud Hapus Kompleksitas, Buka Peluang Inovasi

Karthik Subramanian mengaku timnya tidak menghadapi kendala berarti di proses migrasi. Namun menurutnya, ada beberapa tantangan dari sisi internal. “Menggunakan data center fisik, kami terbiasa memiliki kapasitas lebih, sehingga para developer kami tidak akan berpikir tentang menulis kode yang lebih efisien,” jelasnya. Ia membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mengubah “budaya” coding ke arah pengembangan aplikasi yang lebih efisien.

Menulis-ulang beberapa bagian inti dari technology stack Zalora juga harus diakukan agar proses dan sistem berjalan lebih efisien di atas platform cloud. “Apabila kami mengunakan teknologi yang lama, sistem kami tidak dapat melakukan scaling,” tandas Karthik. Lima engineer DevOps Zalora dapat menuntaskan proses ini dalam waktu satu tahun.

Menggunakan beberapa layanan AWS, seperti Amazon EC2, S3, RDS, Redshift, Route 53, SES, CloudFront, CloudWatch, dan CloudFormation, Zalora ini tak lagi harus menghadapi aneka kompleksitas teknologi yang dulu kerap harus mereka tangani.

“Kompleksitas teknologi sebenarnya bukan core bagi kami. What am i good at? Kami jago membangun aplikasi dan menghantarkan customer experience. Saya dan tim ingin lebih fokus pada membuat sesuatu yang menarik, misalnya dengan teknologi virtual reality,” ujar Karthik.

Keuntungan lain tentu saja Zalora tidak perlu lagi membeli dan mengurusi server fisik. Penambahan kapasitas hingga 150 persen di waktu sibuk dapat dilakukan dalam waktu lima belas menit saja. Ketika kapasitas berlebih, Karthik dan timnya pun dapat “membuangnya” dengan mudah. Dan yang penting lagi, utilisasi server meningkat sampai dengan 40 persen.

Menurut Karthik, dengan cloud, Zalora juga dapat menyajikan produk baru kepada pelanggannya—30 juta unique user per bulan—tiga kali lebih cepat dari sebelummnya.

Hal lain yang disukai Karthik Subramanian adalah ia dapat lebih leluasa bereksperimen dan berinovasi di platform cloud. “Kami sedang bangun model machine learning untuk lebih memahami perilaku pelanggan Zalora dari berbagai aspek. Itu membutuhkan banyak kemampuan analytics, dan kami membangunnya di AWS,” ujar Karthik mengakhiri penjelasannya.

 

Produk terbaru

Rp (Hubungi CS)
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPerumahan Syariah Ummi Residence
Harga Rp (Hubungi CS)
Lihat Detail
Rp 29.900 39.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode27670 - Optimals Oxygen Boost Face Blotting Tissues
Nama BarangOptimals Oxygen Boost Face Blotting Tissues
Harga Rp 29.900 39.000
Anda HematRp 9.100 (23.33%)
Lihat Detail
Rp 139.000 198.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode30348 - Optimals Even Out Face Lotion SPF 30
Nama BarangOptimals Even Out Face Lotion SPF 30
Harga Rp 139.000 198.000
Anda HematRp 59.000 (29.80%)
Lihat Detail
Rp 195.000 198.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals White Skin Youth
Nama BarangOptimals White Skin Youth
Harga Rp 195.000 198.000
Anda HematRp 3.000 (1.52%)
Lihat Detail
Rp 145.000 169.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals Body
Nama BarangOptimals Body
Harga Rp 145.000 169.000
Anda HematRp 24.000 (14.20%)
Lihat Detail
Rp 129.000 179.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals Even Out CC Face Cream SPF 20
Nama BarangOptimals Even Out CC Face Cream SPF 20
Harga Rp 129.000 179.000
Anda HematRp 50.000 (27.93%)
Lihat Detail

Cek resi

Pengiriman