( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0

MENJADI ENTREPRENEUR LEBIH BERGENGSI DIBANDING PROFESI MANAJER

Senin, Oktober 19th 2015.

Menjadi Entrepreneur Lebih Bergengsi Dibanding Profesi ManajerSammy Ramadhan (Co-Founder, CEO Goers App), Merrie Elizabeth (Founder & Business Development, BloBar Co.), serta Frank Koo (Head of Talent Solutions Southeast Asia, LinkedIn) dalam diskusi panel yang diadakan LinkedIn di Jakarta, Selasa (25/10).

Jika sebelumnya jabatan Manajer perusahaan dianggap sebagai simbol kemapanan karier, kini justru profesi Entrepreneur atau wirausahawan yang lebih digandrungi, khususnya bagi mereka yang terlahir sebagai generasi Y.

Salah satu indikatornya ialah merebaknya startup yang belakangan ini menjadi tren tersendiri.

Merrie Elizabeth (Founder, BloBar Salon) dalam panel diskusi dengan LinkedIn pada Selasa (25/10) juga menegaskan, “Kalau dulu jadi manajer itu keren, kalau sekarang jadi entrepreneur baru keren,” ujarnya. Wanita yang pernah meniti karier sebagai pekerja kantoran ini pun ikut berbagi pengalamannya bertransformasi menjadi seorang entrepreneur.

Namun, menjadi entrepreneur bukan perkara mudah. Danny Dharmawan Kosasih (Wakil Ketua Komite tetap Inovasi, Industri Tradisional Berbasis Budaya, KADIN) menyebut jika “networking” menjadi modal utama seorang entrepreneur.

Di sinilah LinkedIn berperan. Sebagai media sosial yang menyasar kalangan profesional, LinkedIn mampu menciptakan ekosistem ekonomi. Dalam hal ini maksudnya, LinkedIn ingin menghubungkan profesional Indonesia, khususnya para entrepreneur, dalam meningkatkan personal branding mereka yang akan berdampak pada perkembangan startup yang mereka bangun.

Pasalnya, Frank Koo (Head of Talent Solutions Southeast Asia, LinkedIn) menyebut, banyak orang ingin bergabung dengan startup bukan karena startup-nya, tapi karena siapa pendirinya. Dalam hal inilah LinkedIn ingin membantu personal branding sekaligus mempromosikan startup-startup tersebut sehingga banyak orang tahu.

Frank menyebut jika anggota LinkedIn saat ini sudah menjadi 450 juta, di mana sebanyak enam juta-nya merupakan member asal Indonesia. “LinkedIn ingin membantu orang Indonesia terkoneksi dengan 400 lebih member tersebut,” ujarnya.

Frank juga menyebut jika entrepreneur Indonesia cenderung lebih aktif membangun jaringan di LinkedIn. Mereka memiliki koneksi lebih banyak sebesar 25% dibandingkan dengan rata-rata jumlah koneksi dari seluruh pengguna LinkedIn di Indonesia.

Dari seluruh koneksi tersebut, mereka juga aktif berhubungan dengan sesama entrepreneur baik dari dalam maupun luar negeri. Bahkan, dari koneksi dengan sesama entrepreneur, 24% koneksi dengan entrepreneur dari luar negeri. Adalah Singapura, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga besar negara yang paling banyak terkoneksi dengan entrepreneur Indonesia.

Produk terbaru

Cek resi

Pengiriman