( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0

MENGENANG IAN MURDOCK, PENDIRI DEBIAN PROJECT

Senin, Oktober 19th 2015.
Mengenang Ian Murdock, Pendiri Debian Project

Ian Murdock, pendiri Debian Project.

“Saya akan bunuh diri malam ini…. Jangan mengganggu saya karena saya memiliki banyak cerita yang harus diceritakan dan tak ingin mereka mati bersama saya”, begitu bunyi sebuah twit dari akun @imurdock yang dimiliki oleh Ian Murdock.

Dan malam itu juga, 28 Desember 2015, Ian Murdock ditemukan meninggal. Tak ada penjelasan detail mengenai sebab meninggalnya Ian Murdock, apakah dia benar-benar bunuh diri seperti twit yang ditulisnya atau ada penyebab yang lain. Penjelasan dari kepolisian San Fransisco pun nihil.

Jadi siapakah Ian Murdock hingga kematiannya cukup menimbulkan kegemparan, khususnya di dunia teknologi informasi?

Antusias dengan Apple II+

Mereka yang aktif menggunakan sistem operasi GNU/Linux pastilah mengenal–minimal tahu–siapa itu Ian Murdock. Ya, Ian Murdock adalah pendiri Debian Project yang akhirnya berkembang menjadi salah satu distribusi Linux yang populer. Ian juga kemudian mendirikan juga Progeny Linux System, perusahaan yang menyediakan layanan teknologi informasi berbasis Linux.

Ian Murdock lahir di Konstanz, Jerman (Barat) pada tanggal 28 April 1973. Tidak ada informasi yang detail mengenai kehidupan masa kanak-kanaknya, termasuk mengapa akhirnya keluarga Murdock pindah ke Amerika Serikat. Yang jelas, ayah Murdock adalah seorang profesor di bidang ilmu entomologi–cabang ilmu zoologi yang khusus mempelajari serangga–dan mengajar sebagai dosen di Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat. Bisa jadi alasan pekerjaan inilah yang membuat keluarga Murdock hijrah ke Amerika Serikat.

Tuntutan pekerjaan memaksa ayah Murdock untuk mengganti mesin ketik tuanya dengan sebuah komputer. Komputer yang digunakan ayah Murdock saat itu adalah Apple II+ yang memang sangat populer pada dekade 1980-an.

Murdock yang saat itu berusia sembilan tahun sangat antusias dengan kehadiran Apple II+ tersebut. Untungnya sang ayah tak melarang Murdock mencoba-coba komputer kerjanya itu. Malahan saat akhir minggu, sang ayah memperbolehkan Murdock membawa pulang Apple II+ itu dan membelikannya game yang mirip Space Invader. Murdock pun betah bermain hingga berjam-jam.

Belajar Membuat Game

Sedemikian kecanduannya terhadap komputer, setiap selesai sekolah, Murdock tak langsung pulang melainkan mampir dulu ke kantor ayahnya. Bila Apple II+ ayahnya sedang menganggur, langsung saja Murdock menggunakannya.

Meski diawali dengan bermain game, kesukaannya terhadap komputer membawanya ke dunia pemrograman. Sang ayah yang menyadari hobi anaknya tak segan untuk berlangganan majalah komputer dan melalui majalah-majalah itu Murdock mulai mengenal dunia pemrograman.

Mula-mula pemrograman yang dipelajari Murdock tetap terkait dengan game. Dengan mengikuti tutorial dari majalah yang dibacanya, Murdock belajar membuat game sederhana. Bukan cuma itu, Murdock juga belajar untuk teliti karena teks editor di Apple II+ relatif kurang user friendly. Ini membuat proses penyuntingan terhadap kesalahan ketik cukup merepotkan. Belum lagi jika harus mencari sebuah kesalahan pemrograman.

Murdock kemudian bertemu dengan mahasiswa ayahnya yang bernama Lee Sudlow. Sudlow mengerjakan projek penelitian yang dalam pengerjaannya juga membutuhkan bantuan komputer Apple II+ milik ayah Murdock. Murdock selalu mengamati semua hal yang dilakukan oleh Sudlow dan Sudlow pun menjelaskan kepada Murdock banyak hal tentang program komputer. Tidak bisa dipastikan apakah langkah Sudlow memberi penjelasan ini dilakukannya secara sukarela atau karena ia segan terhadap ayah Murdock.

Suatu kali, Murdock terpesona oleh sebuah program yang dibuat oleh Sudlow dalam rangka penelitiannya. Hal ini akhirnya mendorong Murdock membuat programnya sendiri, tidak sekadar meniru tutorial dari majalah.

Dengan bimbingan dari Sudlow dan bekal tutorial dari majalah, Murdock akhirnya berhasil membuat sendiri game dan program sederhana. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Applesoft BASIC dan 6502 assembly.

Melihat minat Murdock yang begitu besar, ayah Murdock akhirnya membelikan Apple IIe untuk digunakan di rumah. Ini membuat Murdock sangat berbahagia dan terus mengasah kemampuan pemrogramannya. Hanya saja, saat menginjak masa remaja, kebosanan mulai melanda Murdock.

Dan sebagaimana remaja laki-laki seusianya, Murdock akhirnya malah lebih menyukai kegiatan yang lebih menantang seperti bermain bisbol, musik, dan mulai mengenal pacaran. Apple IIe miliknya pun akhirnya hanya menjadi pengumpul debu dan tenggelam di antara tumpukan buku Hardy Boys dan action figure Star Wars.

Mengenang Ian Murdock, Pendiri Debian Project

Tweet terakhir Ian Murdock yang memberi pesan akan melakukan bunuh diri. [Kredit: elchapuzasinformatico.com]

Murdock pun berkuliah di universitas tempat ayahnya mengajar namun tidak mengambil jurusan zoologi, melainkan–sangat mudah diduga–ilmu komputer. Namun minatnya akan komputer baru benar-benar bangkit ketika mengikuti kursus pemrograman wajib pada musim gugur 1992. Saat itu tersedia dua opsi mata kuliah pemrograman yang bisa dipilih, Fortran atau Cobol. Murdock memilih Cobol karena menurutnya lebih memiliki prospek bisnis yang cerah.

Ketika lulus dari kursus tersebut, secara otomatis Murdock kehilangan akun pada komputer mainframe IBM 3090 yang selama ini menjadi “senjatanya” dalam mengerjakan tugas. Untunglah sebagai mahasiswa ilmu komputer, Murdock mendapatkan akun lain dan dipersilakan memilih antara mainframe IBM atau mini komputer Sequent Symmetry yang mengunakan sistem operasi DYNIX, salah satu varian UNIX.

Saat sedang menimbang-nimbang, datanglah bisikan dari seorang teman Murdock bahwa UNIX jauh lebih menarik daripada sistem VM/CMS yang dimiliki oleh IBM. Murdock mengikuti nasihat temannya tersebut dan mendaftar untuk mendapatkan akun Sequent Symmetry. Seminggu kemudian, Murdock mendapatkan akun di sage.cc dengan alokasi ruang simpan sebesar 500 KB. Di tahun 1992-pun, jumlah itu relatif kecil dan Murdock harus pandai-pandai mengakalinya.

Tak salah memang Murdock memilih UNIX karena ia langsung jatuh hati pada sistem operasi tersebut dan segera mengeksplorasinya menggunakan terminal Z-29. Tak puas hanya dengan Z-29 terminal (karena sebagai non-root user, tentu saja Murdock memiliki banyak keterbatasan akses), Murdock bersama seorang mahasiswa yang lebih senior bernama Jason Balicki sering menyusup ke laboratorium komputer di malam hari untuk mencari ruang yang tak terkunci, demi bisa mencoba komputer yang memiliki akses lebih banyak daripada terminal Z-29.

Berniat Membuat Distro Linux Sendiri

Selain di lab, Murdock juga mengakses UNIX melalui komputer di rumahnya, komputer berbasis prosesor 80286 dengan koneksi modem 2.400 baud atau 9.600 bit per detik. Setelah mampu mengakses dari rumah, Murdock ingin mengemulasikan X Server yang beberapa kali dicobanya di lab komputer. Saat melakukan pencarian melalui Usenet, matanya tertumbuk pada sesuatu yang disebut Linux.

“Eureka”, begitu barangkali yang ada di pikiran Murdock saat itu. Ya, Linux memang bukan X Server seperti yang sedang dia pelajari, namun merupakan sistem operasi mirip UNIX untuk PC, sesuatu yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Murdock segera membeli satu boks disket dan mengunduh Linux. Berhubung spesifikasi minimal yang dibutuhkan oleh Linux adalah komputer berbasis prosesor 80386, lagi-lagi Murdock bersama Jason Balicki menyusup ke lab komputer dan memasang Linux di sana.

Ketika akhirnya berhasil membeli komputer 80386, sebuah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh Murdock karena dia bisa mengeksplorasi Linux sepuasnya, memiliki akses root, dan tak perlu dipusingkan oleh koneksi yang hanya sebesar 9.600 bit per detik.

Murdock yang sering merasa tidak puas saat mempelajari sesuatu, bertekad membuat distribusi Linux sendiri yang menurutnya bakal memuaskan banyak orang. Memang akhirnya Debian merupakan salah satu distribusi Linux yang paling “gemuk”.

Pada bulan Agustus 1993, dirilislah Debian 0.01 dan versi stabilnya baru dirilis pada tahun 1996. Nama Debian diambil dari gabungan nama Ian Murdock dan pacarnya, Debra Lynn. Mereka akhirnya menikah, namun pernikahan mereka kandas di tahun 2008.

Berbekal kemampuan pemrograman yang kuat dan sifat perfeksionisnya, “karier” Murdock di dunia open source melesat cepat. Pada tahun 2006, Murdock diangkat menjadi CTO Free Standards Group dan terpilih menjadi pimpinan Linux Standard Base Workgroup hingga akhirnya merger dengan Open Source Development Labs (membentuk Linux Foundation).

Pada tahun 2007, Murdock meninggalkan Linux Foundation dan bergabung dengan Sun Microsystem. Tugasnya adalah membawa Solaris memiliki sumbangsih yang sama seperti Linux terhadap pengembangan sistem operasi. Hingga tahun 2010, Murdock menjabat sebagai Vice President of Emerging Platforms di Sun Microsystem. Ketika Sun bermerger dengan Oracle, Murdock mengundurkan diri dan pada tahun 2011 bekerja di Docker, Inc.

Sayang sekali, keteladanan Murdock yang terlihat nyata dalam bentuk kerja keras dan hasil karya berupa distribusi Debian tercoreng ketika dia berurusan dengan polisi. Pada beberapa twit terakhirnya terlihat bila dia sangat membenci polisi akibat urusan itu, hingga akhirnya muncul twit pesan bunuh diri itu.

Kematian Murdock masih menjadi misteri hingga saat ini. Namun, sumbangsihnya di dunia open source-lah yang akan selalu diingat dunia, khususnya dunia Linux.

 

Produk terbaru

Rp (Hubungi CS)
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPerumahan Syariah Ummi Residence
Harga Rp (Hubungi CS)
Lihat Detail
Rp 29.900 39.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode27670 - Optimals Oxygen Boost Face Blotting Tissues
Nama BarangOptimals Oxygen Boost Face Blotting Tissues
Harga Rp 29.900 39.000
Anda HematRp 9.100 (23.33%)
Lihat Detail
Rp 139.000 198.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode30348 - Optimals Even Out Face Lotion SPF 30
Nama BarangOptimals Even Out Face Lotion SPF 30
Harga Rp 139.000 198.000
Anda HematRp 59.000 (29.80%)
Lihat Detail
Rp 195.000 198.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals White Skin Youth
Nama BarangOptimals White Skin Youth
Harga Rp 195.000 198.000
Anda HematRp 3.000 (1.52%)
Lihat Detail
Rp 145.000 169.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals Body
Nama BarangOptimals Body
Harga Rp 145.000 169.000
Anda HematRp 24.000 (14.20%)
Lihat Detail
Rp 129.000 179.000
Order Sekarang » SMS : 087875741110
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeOptimals Even Out CC Face Cream SPF 20
Nama BarangOptimals Even Out CC Face Cream SPF 20
Harga Rp 129.000 179.000
Anda HematRp 50.000 (27.93%)
Lihat Detail

Cek resi

Pengiriman